Naik gunung ngapain sich..? Buang-buang uang! Benarkah naik gunung banyak ruginya daripada manfaatnya? Yang jelas, kesan dan pengalaman naik gunung ini tidak bisa diperoleh lewat membaca buku atau mendengarkan cerita para senior. Rasanya akan berbeda bila kita sungguh mengalaminya sendiri.
Banyak hal yang bisa diperoleh. Tidak ada lagi 'pengkotak-kotakan'antara orang pintar atau lamban, anak orang kaya atau miskin.. Begitu naik gunung, terasa sekali bahwa ternyata semua manusia itu kecil, tidak berdaya di tengah dahsyatnya alam. Ada rasa senasib dan sepenanggungan. Merasakan susah dan senang bersama. Belajar untuk tertawa saat susah dan membantu teman walau kondisi begitu lelah. Kesombongan dan ego manusia lenyap dengan sendirinya.. Saat itu yang ada adalah rasa empati, solider, dan kebersamaan. Perbedaan justru menjadikan kita kaya dan saling melengkapi.
Alangkah bahagianya apabila dalam kehidupan sehari-hari dapat diterapkan kesadaran bahwa manusia adalah saudara, sebagai bagian dari alam, salah satu dari ciptaan Tuhan yang Maha Esa di tengah ciptaan-ciptaan Tuhan yang lain.
Banyak materi yang seharusnya dipersiapkan oleh anggota-anggota Kanastra untuk calon anggotanya. Namun pada kenyataannya baru hal-hal berikut ini yang bisa dilakukan. Mulai dari persiapan perjalanan dan briefing yang dilakukan, calon anggota (ca’ang) Kanastra belajar :
- Cara mempersiapkan dan merencanakan perjalanan yaitu:
- Membuat proposal;
- Transportasi;
- Logistik yang disesuaikan dengan kondisi keuangan anggota;
- Mempersiapkan Peralatan;
- Mengurus perijinan
- Membagi kelompok perjalanan dan tiap kelompok didampingi oleh 1 mentor (senior)
Pengenalan medan yang bisa dilakukan adalah:
- Pengenalan lembah dan pegunungan,
- Tumbuh-tumbuhan yang dapat dimakan dan yang tidak dapat dimakan
- Cara memperoleh air yang dapat diminum
- Membaca alam misalnya kemungkinan hujan, dimana ada binatang seperti monyet pasti dekat dengan tanaman buah
Namun navigasi (membaca peta) tidak dapat dilakukan saat itu karena tidak ada peta yang memadai dan pengenalan arah mata angin dengan bantuan matahari tidak dapat dilakukan karena cuaca mendung. Begitu hujan, tes fisik dan mental menjadi lebih sempurna.
Senangnya, para calon anggota sudah mulai hafal kode etik pecinta aalam.Sambil berjalan, kami membersihkan gunung layaknya seorang pemulung di ibukota.
Sedih sekali melihat banyak orang yang naik gunung tanpa menjaga kelestarian alam. Banyak sampah yang ditinggalkan begitu saja. Semoga para anggota Kanastra tidaklah demikian.
Lucunya, para anggota ternyata masih belum sungguh-sungguh mandiri. Makanan dihabiskan sewaktu perjalanan naik. Begitu turun, makanan habis. Duh... Ada juga yang panik karena kena pacet. Teriaknya minta api, mau dibakar katanya.. He..he..he... Pacet bisa lepas dengan ditetesi air tembakau. Tidak perlu dibakar. Bisa-bisa malah bulu kaki gundul kena api...
Untuk permulaan, kegiatan ini sudah sangat baik. Latihan untuk membentuk semangat solider, kompak, merencanakan perjalanan, menjaga alam, menikmati alam sudah cukup baik.
Kami pulang jam 3 ke Jakarta. Sayangnya saat pulang, jalur lalu lintas jalan raya puncak dalam status buka-tutup sehingga kami sampai di Jakarta jam 7 malam. Membawa kesan unik dan pegal-pegal...
STM Strada, Oktober 2010
Salam Kanastra
Cecilia Widyastuti
