MAKNA SUMPAH PEMUDA
Berbicara mengenai sumpah, sumpah adalah suatu pernyataan yang harus diwujud nyatakan. Akan tetapi, kenyataannya banyak sumpah yang hanya diucapkan tanpa dilakukan. Sumpah juga mengandung suatu kenyataan adanya komitmen dan tujuan / cita-cita yang akan dicapai.
Kalau kita melihat sejarah bersatunya Nusantara, Patih Gajah Mada pernah mengikrarkan Sumpah Palapa. Dimana Gajah Mada belum akan berhenti berjuang sebelum Nusantara bersatu. Dengan semangat dan kegigihannya, akhirnya Gajah Mada mampu mempersatukan Nusantara.
Berangkat dari sejarah patih Majapahit tersebut, maka pemuda Nusantara kala itu mengikrarkan pengakuan suatu kesamaan akan tumpah darah yang satu Tanah air Indonesia, berbangsa yang satu bangsa Indonesia, dan berbahasa yang satu yaitu bahasa Indonesia.
Hal-hal di atas muncul karena dilatar belakangi suatu kenyataan bahwa kondisi geografis yang tersebar bahwa kondisi geografis yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, berbentuk pulau-pulau kecil yang notabene untuk terjadi perpecahan sangat rentan. Sehingga ada pemikiran Patih Gajah Mada atau pemuda untuk mengikrarkan SUMPAH.
Dari peristiwa-peristiwa sejarah tersebut, maka kita sebagai penerus bangsa patut mewaspadai adanya gejala-gejala itu.
Menengok peristiwa-peristiwa yang akhir-akhir ini terjadi diantaranya maraknya demo yang berlebihan, tawuran pelajar, narkoba, pengklaiman budaya oleh bangsa lain, penggunaan bahasa, serta banyaknya daerah-daerah yang ingin memisahkan diri dari NKRI, merupakan wujud dari pengingkaran terhadap semangat Sumpah Pemuda. Bagaimana dengan rasa nasionalime yang ada pada diri kita masing-masing?
Pertama yang perlu kita sadari adalah suatu kenyataan bahwa bangsa kita adalah bangsa yang multi pluralis, sehingga banyak perbedaan mewarnai bangsa ini, baik perbedaan agama, suku, ras, budaya, adat istiadat, maupun sifat yang kita miliki. Maka kita harus berusaha memperkecil atau menghilangkan konflik yang terjadi pada bangsa kita.
Kedua, kita harus belajar dari sejarah, bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya. Akan tetapi kita sering kali melupakan perjuangan para pahlawan. Sumpah Pemuda merupakan wujud dari pemikiran para pahlawan. Bagi generasi muda sekarang, Sumpah Pemuda terkadang hanya dianggap sebagai produk sejarah belaka. Kita seharusnya memahami dan melaksanakan maksud dan tujuan para pahlawan termasuk diantaranya Sumpah Pemuda yang menginginkan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia secara utuh.
Ketiga, sumpah mengandung suatu pernyataan / komitmen yang harus dijalankan, bukan cuma sekedar diucapkan. Sumpah merupakan suatu pernyataan yang didalamnya mengandung suatu kewajiban yang harus dilaksanakan seumur hidup. Maka sekiranya kita sebagai generasi muda selalu berusaha untuk menjalankan Sumpah Pemuda dalam setiap kehidupan kita.
KUTIPAN ASLI DAN SEJARAH PERISTIWA SUMPAH PEMUDA
SOEMPAH PEMOEDA
Pertama :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA
Kedua :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA
Ketiga :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA
Djakarta, 28 Oktober 1928
Teks Soempah Pemoeda dibacakan pada waktu Kongres Pemoeda yang diadakan di Waltervreden (sekarang Jakarta) pada tanggal 27 - 28 Oktober 1928 1928.
Panitia Kongres Pemoeda terdiri dari :
Ketua : Soegondo Djojopoespito (PPPI)
Wakil Ketua : R.M. Djoko Marsaid (Jong Java)
Sekretaris : Mohammad Jamin (Jong Sumateranen Bond)
Bendahara : Amir Sjarifuddin (Jong Bataks Bond)
Pembantu I : Djohan Mohammad Tjai (Jong Islamieten Bond)
Pembantu II : R. Katja Soengkana (Pemoeda Indonesia)
Pembantu III : Senduk (Jong Celebes)
Pembantu IV : Johanes Leimena (yong Ambon)
Pembantu V : Rochjani Soe'oed (Pemoeda Kaoem Betawi)
Peserta :
-
Abdul Muthalib Sangadji
-
Purnama Wulan
-
Abdul Rachman
-
Raden Soeharto
-
Abu Hanifah
-
Raden Soekamso
-
Adnan Kapau Gani
-
Ramelan
-
Amir (Dienaren van Indie)
-
Saerun (Keng Po)
-
Anta Permana
-
Sahardjo
-
Anwari
-
Sarbini
-
Arnold Manonutu
-
Sarmidi Mangunsarkoro
-
Assaat
-
Sartono
-
Bahder Djohan
-
S.M. Kartosoewirjo
-
Dali
-
Setiawan
-
Darsa
-
Sigit (Indonesische Studieclub)
-
Dien Pantouw
-
Siti Sundari
-
Djuanda
-
Sjahpuddin Latif
-
Dr.Pijper
-
Sjahrial (Adviseur voor inlandsch Zaken)
-
Emma Puradiredja
-
Soejono Djoenoed Poeponegoro
-
Halim
-
R.M. Djoko Marsaid
-
Hamami
-
Soekamto
-
Jo Tumbuhan
-
Soekmono
-
Joesoepadi
-
Soekowati (Volksraad)
-
Jos Masdani
-
Soemanang
-
Kadir
-
Soemarto
-
Karto Menggolo
-
Soenario (PAPI & INPO)
-
Kasman Singodimedjo
-
Soerjadi
-
Koentjoro Poerbopranoto
-
Soewadji Prawirohardjo
-
Martakusuma
-
Soewirjo
-
Masmoen Rasid
-
Soeworo
-
Mohammad Ali Hanafiah
-
Suhara
-
Mohammad Nazif
-
Sujono (Volksraad)
-
Mohammad Roem
-
Sulaeman
-
Mohammad Tabrani
-
Suwarni
-
Mohammad Tamzil
-
Tjahija
-
Muhidin (Pasundan)
-
Van der Plaas (Pemerintah Belanda)
-
Mukarno
-
Wilopo
-
Muwardi
-
Wage Rudolf Soepratman
-
Nona Tumbel
Catatan :
Sebelum pembacaan teks Soempah Pemoeda diperdengarkan lagu"Indonesia Raya"
gubahan W.R. Soepratman dengan gesekan biolanya.
- Teks Sumpah Pemuda dibacakan pada tanggal 28 Oktober 1928 bertempat
di Jalan Kramat Raya nomor 106 Jakarta Pusat sekarang menjadi Museum Sumpah
Pemuda, pada waktu itu adalah milik dari seorang Tionghoa yang bernama Sie
Kong Liong. - 2. Golongan Timur Asing Tionghoa yang turut hadir sebagai peninjau
Kongres Pemuda pada waktu pembacaan teks Sumpah Pemuda ada 4 (empat) orang
yaitu :
a. Kwee Thiam Hong
b. Oey Kay Siang
c. John Lauw Tjoan Hok
d. Tjio Djien kwie
Satu nusa, Satu bangsa, Satu bahasa kita
Tanah air pasti jaya untuk selama-lamanya
Indonesia pusaka, Indonesia tercinta, Nusa bangsa, dan Bahasa
Kita bela bersama
